FF KYUMIN GS // Song For You // Chapter 3

poster SFY 2

  Another Love Story about Kyumin….

 

~Song For You~

.

.

.

 

Author :

Lee Sungyi a.k.a billy quint

 

Cast :

 

Lee Sungmin

Cho Kyuhyun

Kim Jungmo

Lee Donghae

Eric (Shinhwa)

Sung Min-ah

 (Khusus untuk Sung Min-ah, dia karakter OOC kalau kalian ingin membayangkan sosok Sung Min-ah, dia adalah lawan main Siwon di drama The Lord of dramas, aku suka sama karakternya entah kenapa ketika menulisFF ini wajah dia yang muncul ^^)

 

Masih banyak cast lain nanti

 

Genre :

Drama, Romance

 

Rated : T

 

 

Warning :

Genderswitch

TYPO(S)

 

.

.

.

 

Sungmin menatap nanar pagar kayu yang ada di depannya, sudah lebih dari satu jam dia hanya mematung di sana tanpa berbuat apa-apa. Berulang kali Sungmin mengulurkan tangannya, berniat untuk membuka pagar rumah itu, namun sebanyak itu pula ia mengurungkan niatnya. Sungmin menelan berat salivanya, tempat itu terlihat damai dan tenang, namun justru itu yang membuat Sungmin merasa sangat cemas dan takut untuk masuk ke dalamnya.  Perasaan bersalah yang memenuhi seluruh ruang dihatinya,  membuatnya semakin ragu untuk melangkah. Hingga seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah itu, menatap terkejut pada sosok Sungmin yang tak kunjung masuk ke dalam rumahnya.

 

“Sungmin­-ah, kau kah itu?”, Sungmin reflek mendongak, menatap kedua manik sayu yang tengah menatapnya penuh rindu. Sungmin tersenyum sekilas, berusaha menahan air mata yang semakin mendesak untuk keluar. Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Sungmin, membuka pagar kayu yang memisahkan mereka dan menarik Sungmin masuk ke dalam halamannya. Sungmin menggigit bibir bawahnya, menatap lekat wajah cantik ibunya kemudian memeluknya.

 

Eomma!!” lirih Sungmin penuh haru. Gadis mungil itu memeluk erat tubuh langsing ibunya. Meluapkan rasa rindu, sakit, takut dan penyesalan yang bergulat di dalam hatinya. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut di balik punggung Sungmin. Membelai rambut kecoklatan Sungmin sebagai ungkapan rasa rindu yang tidak bisa terbendung.

 

“Jungmo menghubungi eomma semalam. Suaranya terdengar sangat panik, apa kalian bertengkar?”

 

Sungmin melepaskan pelukannya, menggeleng pelan berusaha menutupi semuanya. Namun Leeteuk bukanlah ibu yang tidak peka. Wanita paruh baya itu tahu bahwa puterinya sedang membohonginya. Hanya saja kenapa dan untuk apa, Leeteuk sama sekali tidak mengetahuinya.

 

“Baiklah, kalau kau tidak mau bercerita. Eomma berharap semuanya baik-baik saja. Eomma sangat mencemaskanmu chagi, Jungmo terdengar sangat cemas semalam.”

 

Sungmin menunduk semakin dalam. Bayangan kemarahan Jungmo terbayang jelas di kedua matanya. Sungmin menggelengkan kepalanya sedikit kasar, kemudian kembali merengkuh ibunya ke dalam pelukannya.

 

bogoshippo eomma.” Ucapnya pada akhirnya. Yah, hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutnya. Sungmin tidak ingin eommanya mengetahui kejadian yang menimpanya semalam. Sungmin tidak ingin menambah beban ibu kandungnya tersebut.

 

Leeteuk tersenyum lembut, “Eomma juga merindukanmu chagiya.. uljimma, nde?” Sungmin makin kuat meremas eommanya yang secantik malaikat, pertahanannya hancur sudah. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dia tahan. Perempuan muda itu menangis, meluapkan semua beban yang ada di pundaknya. Setidaknya ini untuk yang terakhir, setelah itu dia berjanji tidak akan pernah menangis lagi.

 

.

 

.

 

.

 

Leeteuk begitu sibuk di dalam dapurnya yang kecil. Apron putihnya tergantung cantik di tubuh bagian depannya. Wanita paruh baya itu sibuk memasakkan sesuatu untuk puteri kesayangannya. Maklum saja, Sungmin jarang pulang ke rumah orang tuanya. Sejak berusia 20 tahun, Sungmin memutuskan untuk hidup sendiri di Seoul, berjuang untuk meraih impian besarnya. Menjadi seorang artis besar dan terkenal, hingga suatu saat nanti dia bisa membuat kehidupan ibunya menjadi lebih baik lagi.

 

Leeteuk sedikit tersentak, ketika Sungmin memeluk perutnya dari belakang. Wanita cantik itu mengusap telapak Sungmin yang melingkar di pinggangya kemudian berpindah membelai surai kecoklatan puterinya.

 

Waegurae? Apa hidup di Seoul membuatmu susah? Kau terlihat sangat pucat.”

 

Sungmin menggeleng pelan, memejamkan kedua matanya menikmati aroma ibunya yang membuatnya tenang. Yeoja itu makin mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di bahu kiri ibunya.

 

Akkhh” Sungmin sedikit terperanjat, ketika ibunya tiba-tiba berteriak. Sungmin buru-buru melepaskan pelukannya, menatap bahu ibunya yang sedikit terbuka. Leeteuk nampak salah tingkah, ketika Sungmin menatap intens bahu memar miliknya. Harusnya Sungmin tidak boleh tahu. Wanita itu berusaha menyembunyikan memar itu dari Sungmin, tapi nasi sudah menjadi bubur. Sungmin telah melihat luka itu dengan mata kepalanya sendiri.

 

“Apa dia masih sering memukulmu seperti ini?” Sungmin menggeram penuh emosi. Leeteuk hanya menunduk, kemudian beranjak meninggalkan Sungmin.

 

Sungmin mendesah keras, yeoja mungil itu menggigit bibir bawahnya, kemudian bergerak cepat mengikuti ibunya. Sungmin mengambil kursi di depan ibunya, menatap lekat sosok selembut malaikat yang selalu menjadi panutannya.

 

Eomma, mahrebewa, Apa Appa masih sering memukulimu?” Sungmin melembutkan suaranya. Berharap eommanya mau jujur kepadanya. Dan sepertinya usaha Sungmin berhasil, Leeteuk mulai membuka suaranya.

 

Appamu hanya sedikit kesal kemarin. Ini bukan apa-apa. Kau tidak perlu cemas.” Leeteuk berucap lembut. Berusaha menenangkan puterinya.

 

Eomma selalu membelanya. Tidak bisakah sekali saja eomma egois? Tinggalkan Appa, aku benci ketika melihat Appa selalu memukuli Eomma. Apa Eomma tidak lelah selalu diperlakukan kasar? Eomma juga butuh kebahagiaan. Ikutlah denganku ke  Seoul. Kita mulai semuanya dari awal.”

 

Leeteuk tersenyum penuh arti. Wanita cantik itu menarik tangan Sungmin dan membelainya lembut, “Eomma sangat mencintai Appa. Kau mungkin belum mengerti. Tapi ketika suatu hari nanti kau memiliki suami, kau akan mengerti bagaimana perasaan Eomma.

 

“Tapi Appa sudah keterlaluan. Aku tidak bisa melihat eomma menderita bersama Appa.” Sungmin mulai berkaca-kaca. Yeoja bermata kelinci itu menggenggam kedua tangan eommanya, memohon agar kali ini, Leeteuk mau mendengarkannya dan tinggal bersamanya.

 

Eomma sama sekali tidak menderita. Eomma sangat bahagia. Eomma mencintai Appamu. Jika pukulan itu adalah cinta dari Appamu, maka eomma bersedia menahan sakitnya. Asalkan itu Appamu. Apa kau mengerti? Nanti jika kau dan Jungmo sudah menikah, kau akan mengerti dengan sendirinya”.

 

Sungmin mencelos mendengar ucapan eommanya, begitu besar harapan eommanya agar dia bisa menikah dengan Jungmo. Leeteuk selalu menyukai Jungmo. Namja itu lah yang selama ini selalu menjaga Sungmin ketika di Seoul.

 

Belum sempat Sungmin menjawab, seseorang telah menerobos masuk ke dalam rumahnya. Leeteuk reflek berdiri, menatap lekat pria paruh baya yang telah berdiri di depan pintu rumahnya. Sungmin mendengus malas ketika menyadari bahwa sosok yang ada di depan pintu rumahnya adalah Kangin –Appanya-. Yeoja cantik itu memilih untuk menghabiskan coklat panasnya daripada menyambut kedatangan Sang ayah.

 

Yeobo,  kau sudah pulang?” Leeteuk menyambut kedatangan suaminya dengan ramah. Namja paruh baya itu menatap Leeteuk sekilas kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada sosok Sungmin yang sedari tadi berusaha mengabaikannya.

 

“Sungmin baru saja datang yeobo, dia tumbuh makin cantik sekarang.” Leeteuk berusaha mencairkan suasana. Sungmin meletakkan gelas susunya dengan sedikit keras. Yeoja cantik itu kemudian beranjak dari duduknya dan berniat untuk berpamitan.

 

“Mau kemana kau?” Kangin berteriak keras, menghentikan langkah Sungmin yang hampir mencapai pintu rumahnya. Sungmin menarik nafasnya, kemudian menatap tajam sosok ayahnya.

 

“Aku akan kembali ke rumahku. Jaga kesehatanmu. Aku permisi.”

 

“Begitukah sikapmu kepada ayahmu? Kau bahkan tidak memberi salam. Apa itu yang kau dapatkan setelah bertahun-tahun mengejar mimpi gilamu menjadi artis, Lee Sungmin? kehilangan sopan santunmu.” Kangin berteriak keras, menatap Sungmin tajam seolah bersiap melahapnya dengan api kemarahannya.

 

“Apa aku harus memperlakukanmu seperti seorang ayah? Bagaimana denganmu? Apa kau pernah memperlakukan eomma seperti seorang istri? Kau hanya bisa memukulinya, mabuk-mabukan dan membuatnya menderita. Kau tidak pantas di sebut ayah~”

 

Plaaak

 

                Sungmin merasakan panas yang menjalar di pipi kanannya. Tamparan Kangin begitu keras hingga meninggalkan bekas di pipi putihnya. Sungmin berusaha mengatur nafasnya, wanita muda itu kemudian menatap tajam kedua iris kelam Appanya.

 

“Aku permisi.” Ucapnya ketus kemudian keluar dari rumah kedua orang tuanya. Leeteuk terus berteriak memanggil Sungmin, namun Kangin menahannya dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.

 

Sungmin mengepalkan kedua tangannya, menatap geram pondok mungilnya yang telah tertutup rapat. Dia bukan benci pada Appanya, dia hanya berharap Appanya bisa memperlakukan eommanya lebih baik lagi. Sungmin bahkan sudah lupa kapan keluarga mereka merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Mungkin jauh sebelum Kangin mengalami kegagalan dalam bisnisnya dan berubah menjadi pemabuk yang temperamental. Masa-masa itu telah lama berlalu. Masa di mana semuanya terlihat sangat mudah, tidak seperti sekarang. Di mana dia harus berjuang sendirian, melawan semua ketidak adilan, untuk meraih impiannya.

 

Drrtt drrtttt ddrrttt

 

Sungmin sedikit terlonjak ketika ponselnya bergetar tiba-tiba. Yeoja cantik itu menatap ID Caller yang terpampang di layar ponselnya. Sungmin menggigit bibir bawahnya, Ryeowook telah menghubunginya. Hampir saja dia melupakan acaranya untuk tampil di bar tempat Ryeowook bekerja. Biasanya ada Jungmo yang selalu mengingatkannya. Tapi sekarang, Sungmin bahkan tidak tahu kemana perginya ‘malaikat’ pelindungnya tersebut. Sungmin menundukkan kepalanya, merasa sesak ketika nama Jungmo kembali terlintas di pikirannya.

 

Ddrrttt ddrrtttt ddrrrttt

 

Ponsel itu kembali bergetar seolah menuntut perhatian darinya. Sungmin berusaha mengembalikan moodnya. “Nde, Ryeowook­­-ah, aku akan segera ke sana. Nde, arasseo” Sungmin mengakhiri pembicaraan teleponnya dan segera berlari mengejar bis terakhir yang akan membawanya kembali ke Seoul, ke satu-satunya tempat di mana dia bisa mewujudkan impiannya. Mengejar kebahagiannya dan mungkin juga cintanya.

 

.

 

.

 

.

Lampu jalan mulai bersinar terang menerangi setiap sudut kota Seoul. Matahari sore mulai tenggelam di langit ufuk barat digantikan oleh sang rembulan. Seorang pemuda nampak berdiri terdiam di depan jendela besar di dalam ruangan elegannya. Membiarkan televisinya terus menyala tanpa berminat untuk menyimak acara yang tengah disiarkan.

 

Kyuhyun nampak kurang bergairah hari ini. Dokter muda sekaligus pemilik rumah sakit itu seharian hanya menghabiskan waktunya dengan termenung dan menatap hiruk pikuk warga Seoul dari jendela kantornya yang cukup lebar. Pakaian putih kebanggaanya tergantung manis di sudut kantornya, masih tetap terlihat rapi karena hampir seharian ini tidak terjamah oleh pemiliknya.

 

Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, mencoba untuk bersikap santai meskipun pada kenyataanya pemuda itu sangat cemas. Kyuhyun masih memikirkan hal yang sama. Pemuda tampan itu masih memikirkan nasib gadis yang telah tidur dengannya. Kyuhyun belum pernah bercinta sebelumnya. Baginya kehormatan seorang gadis adalah di atas segalanya. Namun sekarang, dia justru mematahkan prinsip yang selalu ia pegang. Dan yang lebih menyiksa bathinnya adalah wanita muda itu menolak pertanggung jawaban darinya. Rasanya seperti menanggung beban dosa yang tidak akan pernah termaafkan. Ironis bukan?

 

“Ya!! Kyuhyun-ah, kau melamun?”

 

Pemuda jangkung itu sedikit tersentak ketika sahabatnya –Lee Donghae- telah masuk tanpa ijin ke dalam kantornya. Donghae menautkan kedua alisnya. Merasa risih ketika Kyuhyun hanya diam namun terus melemparkan tatapan menuduh ke arahnya.

 

Ya!! Jangan menatap ku seperti itu. Wanita muda di depan sana mengatakan kau ada di dalam. Aku berulang kali mengetuk pintu tapi kau tidak menjawab. Aku mencemaskanmu jadi aku masuk ke dalam.” Jelas Donghae panjang lebar.

 

Kyuhyun hanya bisa mendengus pelan kemudian mempersilahkan tamunya duduk. Mengomel pun percuma, toh ini bukan yang pertama kalinya Donghae masuk tanpa ijin ke dalam ruangannya. Kyuhyun masih ingat benar kapan terakhir kalinya Donghae masuk ke dalam kamarnya tanpa seijinnya. Bahkan pemuda tampan itu juga pernah beberapa kali merusakkan seluruh koleksi gamenya yang berharga. Kyuhyun tidak mau mengingat lagi kejadian itu. Rasanya dia hampir meledak ketika kembali mengingat saat-saat itu.

 

“Ada apa hyung? Tumben kau datang ke rumah sakit? Biasanya kau menungguku di rumah.” Tanya Kyuhyun dingin. Donghae memang lebih tua beberapa bulan darinya karena itu Kyuhyun memanggilnya dengan sebutan hyung.

 

Aku mencemaskanmu, yainma! Kau menghilang semalam dengan keadaan mabuk parah. Aku sudah menghubungi eommamu, beliau bilang kau tidak pulang semalaman. Jadi aku mencarimu kemari. Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja kan?”

 

Kyuhyun terdiam cukup lama, isyarat yang jelas menunjukkan bahwa Kyuhyun sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Donghae bisa menangkap signal itu, pemuda tampan itu melihat kekhawatiran yang terlihat jelas di dalam manik obsidian Kyuhyun.

 

Waegurae? Kau membuatku takut.” Ucap Donghae sedikit bergidik.

 

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arah Donghae, berusaha membuka suara sepelan yang dia bisa, Donghae hanya mengikuti semua gerak-gerik Kyuhyun, sampai kemudian pemuda jangkung itu mulai berterus terang kepadanya.

 

Hyung, aku meniduri seorang gadis semalam.”

 

Donghae melebarkan kedua matanya, “Mwo? Kau serius Kyu? Astaga!! Bagaimana bisa? Apa kau mengenal gadis itu?” Donghae memberondong Kyuhyun dnegan semua pertanyaan yang terlintas di kepalanya. Sebagai seorang sahabat, Donghae tahu jelas bahwa Kyuhyun adalah seorang pria baik-baik. Mustahil baginya untuk meniduri seorang gadis, bahkan seorang ‘pelacur’ pun tidak pernah disentuhnya. Dan sekarang, pria itu justru datang denga pengakuan yang luar biasa mencengangkan.

 

Kyuhyun menggeleng pelan, merasa sedikit cemas jika ada yang mendengar percakapan pribadi mereka. “Kau ingat penyanyi wanita yang menyanyi di Bar semalam?” Donghae mengangguk mengiayakan. “Aku tidur dengannya semalam.”

 

Donghae semakin melebarkan matanya, “Mwo? Lee Sungmin? Kau~  Kau dan Lee Sungmin?” Donghae mendadak tergagap. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah terkejutnya sekarang dan juga bagaimana beruntungnya Kyuhyun bisa tidur dengan penyanyi bertubuh mungil tersebut. Seumur hidup pun Donghae hanya bisa menjadikan wanita itu sebagai objek ‘bermain solo’-nya dan sekarang sahabatnya itu mengatakan kepadanya bahwa dia telah tidur dengan wanita yang diam-diam dikaguminya.

 

“Kau tidak sedang bercanda kan Kyu? Bagaimana kau bisa tidur dengannya? Dia selalu menolak ajakan semua lelaki yang mencoba menawarnya dan bagaimana kau bisa melewati Kim Jungmo? pria yang selalu berada di sampingnya.”

 

Kyuhyun menautkan kedua alisnya hingga membentuk sebuah kerutan tipis di dahinya, “Bagaimana kau bisa tahu banyak tentang Lee Sungmin? Kau menyukainya? Dan siapa Kim Jungmo?” sungutnya semakin kesal. Dia sedang bercerita tentang kegundahan hatinya. Donghae malah sibuk menanyakan hal yang tidak penting menurutnya.

 

Donghae terbatuk pelan berusaha menetralkan suaranya, “Lee Sungmin ibarat mawar hitam kau tahu. Semua orang menyukainya. Dia cantik dan berbakat. Temanku pernah menawarnya dengan harga tinggi, 1.000.000 won semalam.”

 

Kyuhyun melebarkan kedua matanya, “Mwo? Menawarnya? 1.000.000 won?” Kyuhyun meninggikan suaranya, merasa risih membicarakan harga seorang wanita di kantornya.

 

Nde, tapi Sungmin menolaknya. Dan Kim Jungmo menghajarnya habis-habisan setelah itu.” Kyuhyun memicingkan kedua matanya, ‘siapa Kim Jungmo? Apa dia kekasih Lee Sungmin?’

 

Donghae mengendikkan bahunya, seolah tahu dnegan apa yang sedang dipikirkan Kyuhyun sekarang. “Yang jelas, Jungmo selalu berada di samping Sungmin. Pemuda itu seperti peremen karet yang menempel di sepatu, susah sekali di lepaskan.”

 

Kyuhyun tersenyum sinis mendengar perumpamaan Donghae. Pemuda itu benar-benar mengibaratkan Jungmo seperti hama pengganggu yang menyebalkan. Selang beberapa menit, kedua pemuda itu terdiam sejenak dalam keheningan. Kyuhyun mencoba mengingat ekspresi Sungmin ketika memintanya untuk merahasiakan ‘kecelakaan’ yang menimpa mereka. Wanita itu terlihat pucat dan ketakutan, mungkin juga Jungmo adalah alasannya. Yah, siapa yang berharap kekasihnya tahu bahwa dia telah tidur dengan pria lain? Apalagi malam itu adalah ‘malam pertamanya’. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum kecil mengingat kejadian di malam menggairahkan itu. Yah, dia belum pernah menjadi pria pertama bagi seorang wanita. Setidaknya sampai malam itu.

 

“Ya,, Kyuhyun-ah, apa rencanamu sekarang? Apa kau berniat menikahinya?”

 

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Bisa-bisanya dia sempat merasa senang memikirkan ‘kecelakaan’ itu.

 

“Awalnya aku berencana menikahinya, tapi Sungmin menolakku. Dia bahkan memintaku untuk merahasiakan ini. Bukankah dia sangat aneh?”

 

Donghae mengangguk mengiayakan, jika dia menjadi Sungmin dia pasti akan menyetujui untuk menikah dengan Kyuhyun, apa untungnya menolak pria tampan, kaya, dan jenius macam Kyuhyun? Kecuali wanita itu telah memiliki kekasih, “Benar juga, Kim Jungmo adalah kekasihnya.” Lirih Donghae nyaris tanpa suara.

 

Eh? Kau bilang apa hyung?”

 

“Nde? Ah,, aniya. Lupakan” Jawab Donghae kemudian.

 

‘Artis dan penyayi Sung Minah dikabarkan tengah dekat dengan aktor tampan Choi Siwon. Kedua artis ini terlibat dalam pembuatan Film baru mereka yang berjudul “The miracle of Love”. Keduanya menyatakan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari hubungan professional, namun netizen melihat bahwa-‘

 

Piiip

 

                Kyuhyun mematikan televisinya kemudian melemparkan remotnya ke sembarang arah, pemuda tampan itu memilih untuk berpura-pura tidak mendengar kabar yang menyangkut mantan kekasihnya. Donghae menatap iba sahabat karibnya itu. Kyuhyun masih belum bisa melupakan Minah, bahkan nampaknya semakin lama pria itu semakin mencintainya. Kyuhyun sadar arti tatapan Donghae, sahabatnya itu kasihan kepadanya. Kyuhyun bisa mengerti itu. Dia memang terlihat sangat menyedihkan.

 

.

 

.

 

.

 

Sungmin menatap kosong bayangan dirinya di depan cermin. Untuk pertama kalinya dia  kehilangan semangatnya ketika bernyanyi. Berulang kali wanita itu salah memainkan nada hingga membuat suaranya terdengar fals. Beruntung penonton tidak menyadarinya dan tetap memberikan sambutan yang sangat luar biasa kepadanya.

 

Ryeowook menatap sendu wajah murung sahabatnya. Perempuan muda bertubuh mungil itu perlahan mendekati Sungmin dan menyentuh lembut bahunya. Sungmin sedikit tersentak, namun sedetik kemudian ia tersenyum manis -yang sedikit dipaksakan- dan menatap bias wajah Ryeowook yang telah berdiri di belakangnya.

 

“Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahatlah, kau terlihat sangat pucat belakangan ini.”

 

Sungmin tetap menyunggingkan senyuman terbaiknya sembari menyentuh telapak tangan Ryeowook yang masih berada di bahunya, “Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku.” Lirih Sungmin dengan nada lembut seperti biasanya.

 

Ryeowook mendesah kecewa melihat Sungmin masih berusaha membohongi perasaannya. Ryeowook sangat paham bahwa Sungmin, sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Ini sudah seminggu sejak Jungmo menghilang tanpa kabar. Dan sudah sejak seminggu pula, Sungmin selalu menangis di tengah malam. Yeoja cantik itu hampir tidak pernah tidur semalaman, menatap kosong ponselnya dan berharap Jungmo akan menghubunginya. Namun sepertinya harapan itu menjadi sia-sia. Jungmo tidak pernah sekalipun menghubunginya. Bahkan hanya untuk sekedar sekedar mengirimkan pesan singkat kepadanya.

 

“Aku yakin cepat atau lambat Jungmo akan menghubungimu. Jangan menghukum dirimu terlalu keras Min. Ini semua bukan kesalahanmu, ini kecelakaan.” Ryeowook berusaha menenangkan Sungmin.

 

“Dengar Min” Ryeowook menambahkan, “Jungmo mencintaimu, kau harus percaya itu. Dia hanya butuh menenangkan diri. Aku yakin dia akan segera menemuimu. Jangan seperti ini, nde? Kau harus memikirkan kesehatanmu.”

 

Sungmin menatap Ryeowook dengan mata berkaca-kaca. Entah harus kepada siapa lagi Sungmin mencurahkan seluruh perasaannya. Dia merasa sangat ketakutan. Jungmo adalah pegangannya selama ini, dan sekarang pria itu meninggalkannya.

 

“Aku sangat takut Wookie-ya, aku takut Jungmo akan benar-benar meninggalkanku.” Sungmin menangis makin keras. Ryeowook ikut terisak sembari memeluk tubuh mungil sahabatnya. Kedua wanita itu saling berbagi kekuatan, terkadang ketika kata-kata tidak bisa menenangkan, hanya pelukan dari seorang sahabat yang bisa menjadi penawarnya.

 

.

 

.

 

.

 

Sungmin melangkah pelan menaiki tangga di depan rumahnya. Suasana di sekitar tempat tinggalnya semakin lengang mengingat kini sudah hampir melewati tengah malam. Sungmin berdiri di dekat lampu jalan yang menyala terang, tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas seperti kehabisan tenaga. Sepertinya Ryeowook benar tentang kondisinya yang semakin melemah. Yeoja itu bahkan baru ingat jika dia hanya memakan sepotong roti ketika sarapan. Sungmin terlalu sibuk mengurung dirinya di dalam kamar, hingga dia tidak ingat kapan terakhir kali ia memasak makanan untuk dirinya.

 

Sungmin semakin mempercepat langkahnya, perutnya kini mulai terasa perih karena seharian belum terisi makanan. Yeoja itu buru-buru menuju dapur dan memakan apapun yang tersedia di dalam kulkasnya. Beruntung Sungmin masih menyimpan beberapa potong roti di meja makannya. Yeoja itu cepat-cepat menghabiskan beberapa lembar roti untuk mengganjal perutnya. Sungmin mengambil beberapa potong daging dan memanggangnya, dia bahkan tidak perlu menunggu dagingnya dingin dan buru-buru memakannya.

 

Gluk gluk gluk

 

Sungmin meneguk kasar susu putih yang tersedia di lemari esnya. Yeoja itu bahkan tidak perlu susah-susah menuangkannya di dalam gelas dan langsung meminumnya dari botol. Sungmin mengusap lembut perut datarnya, rasanya dia sudah menghabiskan banyak makanan namun tetap saja ia merasa kelaparan. Sepertinya stress yang berlebihan membuat nafsu makannya bertambah semakin besar.

 

Sungmin menggigit bibir bawahnya sembari menekan-nekan perutnya, rasa lapar itu kembali datang menguasainya. Sudah tidak ada lagi makanan yang tersisa di dalam dapurnya. Semua persediaan ramennya juga habis mengingat dia belum sempat pergi ke supermarket untuk berbelanja. Sungmin melirik jam dinding yang menempel di atas pintu kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Sungmin mendengus kecewa, mana ada toko yang masih buka tengah malam begini?

 

“Apa lebih baik aku ke rumah Ryeowook saja dan meminta makanan?” Sungmin nampak diam dan berpikir, “Ahh,, tapi itu memalukan” Rengeknya putus asa.

 

Krrraauuuukk

 

Sungmin mendengus kecewa, sepertinya dia memang harus pergi ke rumah Ryeowook dan meminta sahabatnya itu memasak untuknya. Rasanya akan lebih konyol jika dia lebih mementingkan egonya dan mati kelaparan di dalam rumahnya.

 

Sungmin segera memakai kembali mantelnya, yeoja itu sudah akan meninggalkan rumah ketika sebuah mobil audi hitam memperlambat jalannya dan berhenti di depan pintu rumahnya. Sungmin tercekat, seorang pria dengan rambut pirang sedikit berantakan keluar dari dalam mobil itu dan menatap lurus ke arahnya.

 

“Jungmo?” Sungmin bergumam tak percaya. Jungmo telah berdiri di depan rumahnya, menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sungmin merasakan kedua matanya memanas, setelah satu minggu, kini dia bisa bertemu kembali dengan Jungmonya.

 

Jungmo menghembuskan nafasnya berat, pria itu masih terlihat elegan walaupun kini wajahnya telah ditumbuhi jambang dan juga kumis tipis disekitarnya. Jungmo menatap lekat kedua foxy eyes Sungmin yang mulai berkaca-kaca. Keduanya kini telah duduk di dalam rumah Sungmin. Suasana hening dan canggung terasa makin janggal mengiingat ini pertama kalinya mereka bersama dalam satu ruangan tanpa bicara selama lebih dari setengah jam. Jungmo terus menatap Sungmin, menyelami tiap inchi wajah orang yang amat sangat dicintainya.

 

“Bagaimana kabarmu?” Sungmin membuka suaranya, sedikit serak karena dia tengah berusaha menahan air matanya.

 

“Aku baik. Kau?” Jungmo menjawab seadanya.

 

“Aku juga baik.”

 

Selanjutnya tidak ada percakapan. Baik Sungmin maupun Jungmo membiarkan keheningan mengambil alih semuanya. Sungmin sibuk dengan rasa penyesalannya, sementara Jungmo bingung harus memulai dari mana.

 

Mianhae” Sungmin dan Jungmo berucap bersamaan, keduanya saling menatap kemudian tersenyum janggal menertawakan kesamaan mereka.

 

“Kenapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak salah.” Ucap Sungmin masih dengan suaranya yang bergetar.

 

Jungmo menundukkan kepalanya, ini semua salahnya dia tahu dengan jelas bahwa ini semua adalah salahnya. Tapi Sungmin tidak boleh tahu bahwa ini semua karena kecerobohannya. Dia tidak ingin Sungmin membencinya. Dia tidak bisa muncul dan mengaku sebagai seorang penjahat, tapi sebaliknya, dia harus datang sebagai seorang pahlawan.

 

“Aku merasa sangat kacau karena aku gagal menjagamu. Aku tidak marah padamu. Aku marah pada diriku sendiri.” Jungmo menghentikan ucapannya, dia berkata benar dalam hal itu, dia memang tidak marah pada Sungmin, dia marah pada dirinya sendiri.

 

“Aku tidak ingin melihatmu hancur karena ini. Aku ingin bertemu dengan pria bajingan yang telah menyentuhmu, aku ingin menyeretnya ke hadapanmu dan memintanya untuk bertanggung jawab atasmu. Aku tidak bisa melihatmu menderita Min.” Lagi-lagi Jungmo menghentikan perkataannya, dia ingin melihat reaksi Sungmin atas ucapannya, melihat Sungmin masih belum berniat bicara, Jungmo memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.

 

“Katakan siapa orangnya Min, akan aku buat dia menyesal karena telah menyentuhmu. Mengambil hal yang berharga darimu. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkannya hidup tenang.”

 

Sungmin menarik nafasnya berat, yeoja itu memberanikan diri menatap kedua manik mata Jungmo, “Kau tidak perlu mencarinya. Dia bukan pria berengsek. Pria itu berniat untuk bertanggung jawab, tapi aku menolaknya”

 

Jungmo mendelik tegang, jantungnya hampir berhetnti berdetak ketika mendengar hal itu keluar dari mulut Sungminnya.

 

“Dia berniat bertanggung jawab?” Jungmo mengulangi pertanyaanya.

 

Nde, dia berniat untuk menikahiku. Tapi aku menolaknya.” Sungmin kembali terisak.

 

Waeyo?” Jungmo bertanya ragu, ini di luar skenarionya, dia mengira lelaki yang tidur pada dengan Sungmin adalah pria hidung belang yang tidak bertanggung jawab, tapi sepertinya dia salah. Peran ‘pahlawannya’ sedang terancam sekarang.

 

“Aku tahu aku tidak pantas mengatakannya, tapi aku sangat berharap bahwa pria yang natinya ku nikahi adalah pria yang aku cintai, pria yang mencintaiku. Bukan pria yang baru ku kenal.”

 

Jungmo terhenyak mendengar penuturan Sungmin, namja tampan itu kemudian memberanikan diri menggenggam tangan Sungmin, “Jika pria itu aku, apa kau mau menikah denganku?”

 

Sungmin mendongak menatap Jungmo, “Aku tidak bisa Jungmo-ya, aku tidak pantas.”

 

Ssttt!!” Jungmo menekan bibir Sungmin dengan telunjuknya, “Kita menikah minggu depan. Kejadian kemarin menyadarkanku bahwa melindungimu dari jauh saja tidak cukup. Aku mencintaimu Min, tidak peduli apa yang telah terjadi padamu, aku akan tetap mencintaimu.”

 

Sungmin menunduk semakin dalam, merasa malu namun juga bahagia. Jungmo memang pilihan yang tepat untuknya. Dia yakin bahwa Jungmo memang lelaki terbaik untuknya. Sungmin yakin bahwa dia juga mencintai Jungmonya, yah dia memang mencintainya. Dia percaya dia mencintainya.

 

Jungmo mendekap tubuh Sungmin di depan dadanya. Wanita telah setuju untuk menikah dengannya. Tuhan benar-benar membantunya sekarang. Jungmo tidak peduli meski dia harus membohongi Sungmin seumur hidupnya. Jungmo hanya ingin menjadikan Sungmin miliknya, tidak peduli meski dia juga harus menanggung beban sebagai pria paling jahat di dunia.

 

“Aku mencintaimu, Lee Sungmin.”

 

Sungmin tersenyum manis di dalam pelukan Jungmo. Yeoja cantik itu sama sekali tidak menyadari adanya perubahan besar yang akan terjadi pada dirinya. Sesuatu yang sangat luar biasa telah tumbuh di dalam dirinya, berkembang pesat seiring dengan putaran waktu yang mengitarinya. yeoja itu hanya belum menyadarinya, sesuatu yang tertanam jauh di dalam rahimnya tengah mencoba berjuang untuk hidup di dalam sana.

 

TeBeCe

 

Mian untuk update yang cukup lama ^^
hihihihi

 

Terima kasih buat yang sudi membaca dan mereview FF ini.

 

Apa FF ini membosankan?

Pasti banyak yang protes karena di sini sama sekali gag ada Kyumin moment..
mian mian,,, hehehehe

 

Ada yang tanya soal Eric?

Yep,, itu Eric personil shinwa ^^

Tentu aku ga akan jadikan dia Cuma sebagai pemanis buatan (?)

Nanti Eric akan muncul lagi.. ^^

Hehehehehe

 

Okay, ayeong….
Follow twitter q (quint_pumpkin) kalo mau kenal lebih dalam (?)
gyakakakakakakak

 

About these ads

About quint137shipper

my name is Isungyi and also known as billy quint i'm a young lady who love SUPER JUNIOR so much My bias is Sungmin, just Sungmin.. ^^ i'm a Kyumin shipper.. I love Pink i hate fanwar, but i hate you more if you hate suju i'm moodswing Welcome to my world Bashing is not allowed here if you hate my FF just go away! Lihat semua pos milik quint137shipper

37 responses to “FF KYUMIN GS // Song For You // Chapter 3

Thanks for reading and keep review please ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.300 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: