FF KYUMIN GS // Song For You // Chapter 1

Poster Song for you

Another Love Story about Kyumin….

 

~Song For You~

.

.

.

 

Author :

Lee Sungyi a.k.a billy quint

 

Cast :

 

Lee Sungmin

Cho Kyuhyun

Kim Jungmo

Lee Donghae

Eric (Shinhwa)

Sung Min-ah

 (Khusus untuk Sung Min-ah, dia karakter OOC kalau kalian ingin membayangkan sosok Sung Min-ah, dia adalah lawan main Siwon di drama The Lord of dramas, aku suka sama karakternya entah kenapa ketika menulisFF ini wajah dia yang muncul ^^)

 

Masih banyak cast lain nanti

 

Genre :

Drama, Romance

 

Rated :

 T to M

 

Warning :

Genderswitch

 

.

.

.

 

 

 

 

Musik berdentam cukup keras memekakan telinga. Gemerlap lampu club malam membuat suasana semakin meriah. Puluhan pasangan muda-mudi telah ikut terlarut di dalamnya, bergoyang seirama sambil berpelukan mesra. Kyuhyun memicingkan matanya, menatap jengah lautan manusia yang ada di depannya. Kyuhyun bukanlah orang yang suka dengan dunia malam, pemuda itu lebih sering menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan. Membaca buku tentang ilmu kesehatan yang sangat disukainya. Namun malam ini, Kyuhyun sengaja meninggalkan rutinitasnya. Memasuki dunia malam yang kata banyak orang menjanjikan banyak kesenangan. Hanya malam ini, malam di mana tepat 7 tahun lalu Kyuhyun merasakan sakitnya dicampakan. Bukan untuk mengenang, hanya bertekat untuk melupakan. Meskipun Kyuhyun tahu, semuanya akan berakhir sama dengan malam di tahun-tahun sebelumnya. Kenangan itu akan terus datang dan menggerogoti hatinya yang telah terluka.

 

Sama sekali tidak ada gunanya. Kyuhyun tersenyum miris kemudian kembali meneguk brendynya rakus. Membiarkan tenggorokannya terasa panas oleh minuman keras tersebut. Kyuhyun tahu, kesadarannya mulai berkurang dan sepertinya memang itulah tujuan sebenarnya.

 

Ya!! Gwaenchana?” Kyuhyun mendongak kemudian menyunggingkan senyumnya. Tangan kanannya terangkat, berusaha menyampaikan signal bahwa dia baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya, namja itu hampir 50% kehilangan kesadarannya.

 

“Kau terlihat sangat menyedihkan.” Pemuda di depannya bergumam pelan kemudian memilih untuk ikut duduk di dekat Kyuhyun, “Ayolah Kyu, 7 tahun bukankah sudah cukup bagimu untuk melupakannya? Kau bukan lagi anak SMA yang harus mengemis cinta pada seorang wanita. Kau seorang dokter muda, calon pemilik rumah sakit terbesar di Korea. Haruskah kau terlihat lemah hanya karena seorang wanita?” Donghae mendengus gusar, berusaha membuka mata sahabatnya. Cho Kyuhyun bukanlah pria berparas jelek tanpa mesa depan, justru sebaliknya. Kyuhyun pria tampan berperawakan jangkung dengan tubuh atletis dan mata berkilat tegas. Kyuhyun putera dari seorang pemilik rumah sakit terbesar di Korea. Prestasinya juga cukup membanggakan. Usianya baru menginjak 25 tahun, tetapi karirnya sebagai seorang dokter benar-benar sangat cemerlang. Tanpa perlu bersusah-susah, Kyuhyun bisa mendapatkan semua wanita cantik di Korea kalau dia mau.

 

Tetapi lihat apa yang terjadi, pria paling diminati di seluruh negeri itu hanya sibuk menghabiskan malamnya seorang diri. Menolak menjalin hubungan dengan semua wanita yang berlomba-lomba mendapatkan perhatiannya. Bagi Kyuhyun cintanya hanya untuk satu orang dan itu tidak akan berubah, meskipun orang itu telah jauh meninggalkannya. Mencampakannya demi sebuah karir keartisannya.

 

“Aku sangat mecintainya” Kyuhyun mulai bergumam tak jelas. Donghae hanya bisa mengendikkan bahunya kesal sembari meneguk minumannya, menemani sahabatnya yang sebentar lagi mulai mengoceh panjang lebar tentang Sung Min-ah, mantan kekasihnya.

 

Kyuhyun menatap nanar gelas kosongnya, pikirannya kembali melayang pada perstiwa 7 tahun silam. Kyuhyun muda yang saat itu telah memasuki tingkat akhir di sekolahnya. Begitu bersemangat ketika kakak tingkatnya memintanya untuk berkencan di tengah malam bersalju. Pemuda berambut ikal itu telah menyiapkan semuanya, sebuah cincin emas sebagai pengingkat antara dia dan Sung Min-ah, mungkin terlalu berlebihan untuk pemuda seusianya, tapi Cho Kyuhyun benar-benar serius dengan apa yang akan dilakukannya.

 

“Kau sudah menunggu lama?” Kyuhyun datang dengan nafasnya yang sedikit terengah. Kepulan asap putih terlihat jelas dari mulutnya, pemuda tampan itu kedinginan namun sekuat tenaga berusaha dilawannya.

 

“Kau basah.” Min-ah berucap pelan, memamerkan gaung suaranya yang begitu lembut bagaikan lonceng gereja. Min-ah menarik tangan kanannya, mengusap pelan rambut Kyuhyun yang hampir penuh dengan butiran salju. Kyuhyun menyunggingkan senyumannya, merasa hampir meledak karena bahagia. Min-ah adalah gadis paling cantik di sekolahnya, dia berbakat dan sangat sempurna. Kyuhyun adalah satu dari beberapa pria beruntung di sekolahnya yang bisa dekat dengannya. Kedekatan ibunyalah yang membuat mereka saling mengenal. Min-ah memperlakukan Kyuhyun begitu special, membuat jiwa muda Kyuhyun bergelora karena cinta. Pemuda itu yakin bahwa Min-ah juga menyukainya, terlihat jelas dalam kilatan matanya, meski gadis cantik itu berusia 2 tahun lebih tua darinya. Siapa yang peduli pada usia jika kau sedang jatuh cinta?

 

“Ada yang ingin aku bicarakan” Kedua mata itu saling menatap kemudian tersenyum bersamaan. Bahkan pikiran mereka juga sama. Kyuhyun menggaruk tengkuknya canggung, “Noona bicaralah dulu.” Ucapnya mempersilahkan. Min-ah tersenyum tulus kemudian menganggukkan kepalanya, menarik lengan Kyuhyun agar ikut duduk di sampingnya.

 

“Kau tahu aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang artis terkenal” Min-ah membuka suaranya, “Dan sepertinya impianku itu akan segera terwujud.”

 

Kyuhyun melebarkan kedua matanya, memandang takjub pada makhluk sempurna yang ada di depannya. “Jeongmalya? Wah.. Chukkae noona.” Ujarnya tulus sembari menyunggingkan senyuman terbaiknya.

 

Min-ah tersenyum kecut sambil menatap Kyuhyun semakin dalam, “Karena itu, mulai sekarang kita tidak bisa bersama. Aku akan sibuk dengan dunia baruku, tidak ada waktu bagiku untuk terus bermain-main denganmu. Aku mengatakan ini kepadamu karena aku ingin kita berpisah secara baik-baik, bagaimanapun juga aku sangat menyukaimu.”

 

Senyuman itu perlahan menghilang dari wajah Kyuhyun. Bermain-main? Apakah Min-ah hanya menganggapnya main-main selama ini? Sung Min-ah dapat melihat dengan jelas rahang Kyuhyun yang mulai mengeras, pemuda itu marah, dia dapat merasakan itu dari tatapannya. Dengan lembut, Min-ah meraih telapak tangan Kyuhyun, mengusapnya pelan dengan penuh kasih sayang.

 

Mianhaeyo, Kyuhyun-ah.” Ucapnya lembut namun entah kenapa terdengar seperti tamparan keras di telinga Kyuhyun. Pemuda berambut ikal itu terdiam, cincin yang berada di balik saku jaketnya tiba-tiba saja terasa berat dan panas. inikah rasanya dicampakan?

 

“Aku akan menunggumu.” Suara itu akhirnya keluar dari bibir Kyuhyun, Min-ah menatap kedua obsidian Kyuhyun yang berkilat penuh keyakinan, “Aku akan menunggu noona. Kumohon jangan pernah melepaskan aku. Aku sangat menyukaimu, kau tahu itu.”

 

Min-ah terdiam, menundukkan kepalanya menghindari tatapan terluka milik seorang Cho Kyuhyun. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya sebelum kemudian bangkit berdiri dengan segenap kekuatannya, “mianhaeyo Kyu. Aku harus pergi. Jangan pernah menghubungiku karena itu akan semakin menyiksamu.”

 

Noona!!” Kyuhyun berteriak keras memecah keheningan malam. Salju turun semakin deras seolah berusaha menghapus jejak Min-ah yang semakin jauh meninggalkannya. Kyuhyun tidak pernah menangis sebelumnya, pemuda stoic itu selalu terlihat kuat selama hidupnya. Namun malam ini, Kyuhyun terlihat seperti bukan dirinya. Air matanya terus mengalir membasahi pipi pucatnya, menunjukkan betapa sakitnya luka yang tergores dalam hatinya. Orang bilang luka akan sembuh dengan berjalannya waktu, namun setelah 7 tahun, luka dalam hati Cho Kyuhyun masih tetap menganga dan basah, seolah tidak pernah menunjukkan ciri-ciri kesembuhan.

 

Musik mulai mengalun lambat hingga akhirnya benar-benar menghilang, Kyuhyun tersadar dari lamunannya yang panjang. Namja tampan itu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah stage yang mulai terbuka tirainya. Seluruh penonton bertepuk tangan. Seorang gadis berperawakan mungil nampak duduk manis dengan gitar pinknya. Gadis itu menyilangkan kakinya ke depan, berusaha menahan gitar akustiknya dengan kaki mulusnya. Denting gitar mulai mengalun, penonton mulai diam menyesapi lembutnya petikan indah dari jemari lembut tersebut.

 

cheoum nukin gudae noonbichun

honjamane ohaeyeotdeongayo

haemalgun misoro narul

baboro mandureotso

 

Kyuhyun melebarkan kedua matanya, menatap intens pemilik suara lembut yang berada di atas stage. Dadanya berdenyut nyeri, lagu itu mengingatkannya atas kenangan indah bersama Min-ah. Kyuhyun menggigit bibirnya, kenapa bahkan di saat seperti ini, aku selalu teringat padamu? Suara itu kembali mengalun lembut, Kyuhyun menutup kedua telinganya namun irama denting gitar itu seperti sengaja mempermainkannya. Hentikan, aku mohon hentikan.

 

eojenun ddeonan gudaerul
itji
 mottanun naega miwotjyo
hajiman
 ije kaedarayo
gudaemane
 nayeotssumul

dasi doraon gudaewihae
nae
 modun geot durilteyo
oori
 idaero yeongwonhi
heeojiji
 anuri

na ojig gudaemanul
saranghagi
 ddaemoone. . .

                Penyanyi itu menyunggingkan senyumannya, menatap bahagia setiap penonton yang menikmati penampilannya. Kyuhyun meneguk brendynya kasar kemudian melangkah keluar mengabaikan sorak sorai penonton yang terpukau oleh penampilannya.

                “Haiishhhh,, Lee Sungmin benar-benar luar biasa. Dia benar-benar sempurna. Bagiamana menurutmu Kyu?” Donghae sedikit tersentak, ketika mendapati sahabatnya sudah tidak berada di sampingnya. Wajah kekanakannya tampak kebingungan mencari sahabatnya. Donghae mengusap rambutnya kasar kemudian segera bangkit untuk mencari sahabatnya. Bagaimanapun juga Cho Kyuhyun sedang berada di bawah pengaruh alkohol, siapa yang bisa menduga apa yang akan dilakukan pemuda itu di saat dia mabuk?

 

Haishhh,, merepotkanku saja” umpatnya kesal kemudian meninggalkan bar untuk mencari Cho Kyuhyun.

.

 

.

 

.

 

Suara riuh penonton masih terdengar nyaring memekakan telinga. Sungmin masih berdiri di atas panggung dengan gitar pinknya, menatap tiap pasang mata yang menatap kagum ke arahnya. Sungmin menyunggingkan senyumannya, memperlihatkan barisan bibir merekah merah yang semakin indah di wajah cantiknya. Tubuh mungil itu mulai membungkukkan badannya, memberikan salam terakhir sebelum menghilang di balik tirai merah.

 

Kamsahamnida” ujarnya lembut bagai denting lonceng yang memabukkan. Gadis cantik itu melangkahkan kaki mungilnya ke belakang panggung. Siap meninggalkan teriakkan penonton yang masih ingin melihat pesonanya.

 

Lee Sungmin, seorang gadis berusia 25 tahun. Memiliki talenta yang luar biasa di bidang tarik suara. Sungmin merupakan mantan mahasiswi  jurusan music pop modern di Seoul University. Sayangnya gadis cantik itu tidak sempat melanjutkan kuliahnya. Keadaan keluarganya yang cukup pas-pasa’an jika tidak boleh dikatakan miskin membuat Sungmin harus mengubur impiannya untuk tetap kuliah, namun gadis penuh semangat itu masih memiliki satu mimpi yang selalu dipegangnya. Sungmin ingin menjadi seorang penyanyi, itulah yang membuatnya rela keluar malam di bar-bar untuk melebarkan sayapnya.

 

“Menejeeeer!!” Sungmin berteriak kekanakan. Menghamburkan pelukannya pada sesosok namja jangkung yang memang tengah menunggunya. Pemuda tampan itu memiliki garis rahang yang tegas. Iris gelapnya berkilat bening ketika menangkap sosok Sungmin telah berada di dalam pelukannya. Jungmo membenarkan posisi berdirinya, membalas pelukan Sungmin dengan begitu posesif dan hangat.

 

“Kau seperti senang sekali.” Jungmo membuka suaranya, membuat Sungmin perlahan mulai membuka pelukannya.

 

“Apa produser dari perusahaan musik melihatnya? Demi Tuhan aku gugup sekali Jungmo-ya.” Cicitnya bersemangat. Jungmo hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah sahabat masa kecilnya. Jungmo adalah satu-satunya sahabat Sungmin yang paling setia. Ketika keluarga Sungmin mengalami kejatuhan, Jungmo lah yang selalu berada di sampingnya untuk memberi semangat. Jungmo seperti sosok malaikat pelindung bagi seorang Lee Sungmin dan yeoja itu sangat menghargainya. Namun bukan penghargaan seperti itu yang sebenarnya diharapkan Jungmo. Pemuda itu selalu berharap Sungmin bisa melihatnya lebih dari sekedar sahabat, sebagai kekasih misalnya.

 

“Sungmin-ah, aku tidak ingin merusak suasana. Tapi aku harap kau ingat bahwa hari ini adalah batas akhirmu.” Jungmo menatap Sungmin penuh minat, membuat gadis itu seketika memundurkan langkahnya.

 

“Eh,, itu,, Er,, mian.” Sungmin menundukkan kepalanya semakin dalam, tanpa bicara pun Jungmo tahu apa yang ada di dalam kepala cantik Sungminnya.

 

“Kau lupa?” Sungmin mengangguk pelan tak berani mendongak. Jungmo mengangkat kedua tangannya kesal, selalu seperti ini. Sungmin akan selalu menghindar ketika Jungmo mulai membicarakan tentang hubungan mereka. Entah apa yang membuat Sungmin begitu senang menggantungkan hubungan mereka. Jelas-jelas Jungmo sangat menyukainya, selalu menjaganya dan setia padanya. Tapi nampaknya semua itu belum cukup bagi Sungmin untuk meyakininya.

 

Mianhae Jungmo-ya, hajiman,, aku er… aku benar-benar~”

 

“Sudahlah!” Jungmo memotong ucapan Sungmin ketus, terlalu banyak alasan, pikirnya. “Kita bicarakan itu nanti saja, seseorang telah menunggu kita di luar.” Jungmo berucap dingin. Melangkah mendahului Sungmin dengan raut mukanya yang menggeram marah. Sungmin menggembungkan pipinya. Lagi-lagi dia mengecewakan malaikat pelindungnya. Gadis cantik itu memukul pelan kepalanya, melakukannya berulang-ulang sampai suara keras Jungmo kembali menyadarkannya.

 

“Kau mau ikut denganku menemui produser itu ataukah hanya berdiri di sana sambil memukul kepalamu yang cantik itu sampai gegar otak?”

 

Sungmin menghembuskan nafasnya berat, kemudian melangkah mengikuti langkah kaki lebar Jungmo. Menemui seseorang yang menjanjikan ketenaran pada seorang Lee Sungmin. Gadis itu berdiri canggung menatap sosok tampan yang menatapnya intens, meliriknya dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai. Sungmin menundukkan kepalanya merasa risih dengan tatapan penuh minat yang dilemparkan kepadanya. Dia mau menjual suaranya, bukan tubuhnya.

 

                “Kenalkan hyung, dia Lee Sungmin. Kau pasti sudah melihat penampilannya, dan aku tidak bohong soal suaranya yang luar biasa.” Jungmo memeluk pundak Sungmin agar merapat kepadanya, pemuda yang dipanggil hyung itu masih betah menatap Sungmin, sampai-sampai Jungmo harus memanggilnya berulang-ulang untuk menarik perhatiannya.

 

“Oh,, ya, aku sudah melihatnya. Dia luar biasa. Kau benar Jungmo-ya. Dia sempurna.”

 

Sungmin merasakan pipinya merona. Gadis itu mungkin telah biasa mendapatkan ucapan decak kagum dari penonton yang melihatnya, namun kali ini tentu saja berbeda, karena Sungmin dipuji oleh seorang produser musik yang akan menjadikannya bintang. Siapa yang tidak berbangga jika menjadi dirinya?

 

“Sungmin-ah, dia adalah Eric hyung. Dia akan membantumu setelah ini, kau harus baik kepadanya.”

 

Sungmin menunduk pelan memberi hormat. Kemudian menatap Jungmo dengan tatapan tulus penuh rasa terima kasih. Jungmo hanya tersenyum sekilas membalas tatapan Sungmin. dia masih marah, tentu saja iya.

 

Keundae hyung, kapan kita bisa memulai debut untuk Sungmin?” Eric berdehem pelan kemudian membenarkan posisi duduknya, matanya masih sesekali melirik Sungmin. Jelas sekali bahwa namja itu tertarik pada Sungmin.

 

“Tentu saja kita harus segera mengaturnya, Jungmo-ya. Aku sudah memikirkan itu. Kau tidak perlu cemas. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Aku akan menghubungi kalian secepatnya. Keundae Sungmin-ssi, kau hanya perlu percaya kepadaku.” Eric mengedipkan sebelah matanya. Membuat pipi bulat Sungmin seketika itu semakin memerah karena malu. Jungmo menggeram marah, merasa terbakar ketika Sungmin tersenyum malu-malu pada pemuda lain di depan matanya. Eric tertawa pelan, kemudian bangkit dari tempatnya, berpamitan pada Jungmo dan Sungmin sebelum meninggalkan mereka.

 

“Kau marah?” Sungmin bertanya penasaran ketika melihat raut muka Jungmo yang berubah merah padam.  Yeoja cantik itu segera melihat ke sekelilingnya, mata rubahnya berubah cerah ketika melihat sebotol air mineral di atas meja di ruang gantinya. “Minumlah, kau akan merasa lebih baik.” Sungmin menyerahkan botol minuman itu dengan tatapan polosnya. Jungmo menatap botol yang ada di tangan Sungmin. Minuman itu memang miliknya, tapi bukan untuk dirinya. Jungmo menelan salivanya berat. Minuman itu memang nampak seperti minuman biasa, hanya saja dia telah mencampurkan sesuatu ke dalamnya. Bukan racun atau bahan-bahan yang bisa membuat orang terbunuh. Jungmo hanya memasukkan obat perangsang ke dalamnya. Wujud dari rasa frustasinya atas sikap Sungmin yang selalu plin-plan kepadanya. Demi Tuhan Jungmo tidak ingin melakukan cara hina itu, tapi Sungmin benar-benar membuatnya gila. Dia seolah dipaksa untuk melakukan jalan pintas itu. Keinginannya untuk memiliki Sungmin begitu besar di dalam hatinya.

 

“Itu bukan untukku. Aku membelikannya untukmu.” Jungmo kembali bicara setelah terdiam cukup lama. Sungmin menaikkan satu alisnya, menatap botol minuman yang berada tepat di depan wajah Jungmo.

 

“Baiklah kalau ini untukku. Aku akan meminumnya.” Ucapnya tanpa curiga. Jungmo merasakan jantungnya berdegup kencang. Sungmin telah menghabiskan hampir separuh dari seluruh isi botol tersebut. Jungmo tersenyum canggung ketika Sungmin menatapnya dengan tatapan polos yang menggemaskan. Ada sedikit rasa bersalah yang terselip di dalam relung hatinya, dia telah memperdaya gadis malang tersebut. Jungmo tidak pantas disebut malaikat, dia tahu itu. Tapi godaan untuk memiliki Sungmin terus saja mengusik birahinya dan naluri seorang Jungmo tidak kuasa untuk menolaknya.

 

“Ehm..” Jungmo berdehem pelan, “Kau tunggulah di luar. Aku akan menyusulmu setelah ini.” Ucapnya parau merasakan sesuatu di antara selakangannya semakin megeras seolah ingin meledak. Sungmin hanya menurut dan berjalan mendahuli Jungmo, mengahabiskan minuman yang telah diberikan Jungmo kepadanya tanpa rasa curiga. Sungmin berdiri sambil menadah ke langit, menatap ribuan bintang yang berkelap-kelip seolah tengah mengajaknya berkomunikasi. Sungmin menyunggingkan senyumannya membayangkan wajah sang ibu yang pastinya akan merasa bahagia ketika mendengar putrinya bisa meraih cita-citanya. Aku berhasil eomma. Aku akan segera menjadi penyanyi. Eomma jangan cemas aku akan berusaha 100 kali lebih giat.

 

Bruuukkk

 

Sungmin tersadar dari lamunannya, ketika seorang pemuda tiba-tiba jatuh di depannya. Sungmin segera berlari menghampirinya membalik tubuh jangkung yang terlihat tidak berdaya di atas trotoar.

 

Ya!! Gwaenchana?” Sungmin berteriak panik. Menepuk-nepuk pipi tirus pemuda tampan yang kini berada di atas pahanya. Sungmin terkesiap ketika bulu mata panjang pemuda itu mulai bergerak-gerak hingga perlahan terbuka.

 

“A.. ir” ucapnya nyaris tak terdengar. Sungmin membulatkan kedua mata kelincinya, sama sekali tidak paham dengan ucapan pria itu. Sungmin menatap keadaan sekitarnya, berharap dia dapat menemukan tempat yang bisa memberinya pertolongan, namun nihil. Tidak ada apotek maupun klinik di sana. Sungmin hanya melihat beberapa bar dan motel yang berjajar di sepanjang jalan. Gadis cantik itu mendengus pasrah, Jungmo juga tidak kunjung keluar untuk membantunya. Maka dengan amat sangat terpaksa, Sungmin berusaha memapah tubuh jangkung Kyuhyun seorang diri, menyeretnya dengan susah payah ke dalam salah satu motel yang terletak tidak begitu jauh dari sana.

 

Bruukkk

 

                Sungmin dan Kyuhyun jatuh bersamaan. Yeoja imut itu hampir menyerah karena kelelahan, seluruh barang-barang di dalam tasnya berhamburan keluar. Sungmin kembali mengangkat Kyuhyun, mengabaikan ponselnya yang secara tidak sengaja terjatuh di atas trotoar.

 

Sementara itu Jungmo telah keluar dari bar, raut mukanya berubah pucat ketika Sungmin tidak berada di tempat yang seharusnya. Jungmo merasakan darahnya berdesir, kali ini bukan karena ledakan gairah seperti sebelumnya, melainkan lebih kepada rasa cemas ketika Sungmin tiba-tiba menghilang dari kedua matanya. Jungmo mengepalkan tangannya erat, bagaimana jika Sungmin bertemu dengan pria jahat? Gadis itu telah berada di dalam pengaruh obat perangsang dan Jungmo tahu benar bagaimana seseorang yang berada di dalam pengaruh obat tersebut bisa menjadi sangat tidak terkendali. Panas dan butuh dipuaskan. Jungmo menjambak rambutnya kasar,memaki dirinya sendiri yang bisa ceroboh dan membahayakan Sungmin. Pemuda itu segerah merogoh sakunya, mencari nomer Sungmin dan segera menghubunginya.

 

Shiganui moogemankeum, Sarangeun deohaegago

Apeumi mugeoweodo, Geuraedo eonjengan nal

Saranghal geotman gata ~

 

Jungmo melebarkan kedua matanya. Suara nada dering milik Sungmin begitu dekat dengannya. Namja itu terus mencari sampai kedua lensa matanya menangkap benda kecil yang berkelap-kelip di atas trotoar. Jungmo mendekati benda tersebut. Seketika itu kemarahannya makin memuncak. Jungmo melemparkan ponselnya kasar, membiarkan benda tak berdosa itu pecah berkeping-keping di atas badan jalan. “Kim Jungmo kau bodoh, bodoh, bodoh. Kau berengsek. Aaaargghhhhh!!!!!!!!!” Jungmo berteriak seperti orang kesetanan. Pikirannya kacau dan dia menjadi semakin gila, “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sungmin-ah, odisseo?” isaknya pelan nyaris tanpa suara.

 

.

 

.

 

.

 

Aigoo,, Kau benar-benar berat.” Gerutu Sungmin setelah menghempaskan tubuh Kyuhyun di atas ranjang yang telah dia sewa. Kyuhyun menggeliat pelan, merancau tak jelas di dalam alam bawah sadarnya. Sungmin menelan salivanya berat, entah kenapa tubuhnya tiba-tiba terasa berat. Sungmin mencengkram tiang yang berada di sisi-sisi ranjang Kyuhyun. Hawa panas tiba-tiba saja terasa memenuhi tubuhnya. Sungmin mulai bergerak tak nyaman. Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku terasa panas? astaga ada apa ini?

 

                Sungmin mencengkram tiang itu semakin erat, gadis itu tidak pernah merasa tersiksa seperti ini. Ada yang salah dengan dirinya, dia paham itu tapi yang tidak dia pahami adalah kenapa dia seperti ini. Dia benar-benar yakin bahwa tadi dia sangat sehat, setidaknya sebelum dia bertemu dengan pria misterius itu.

 

“Minh~” Sungmin menajamkan pendengarannya, rasa penasaran semakin menggelayuti hatinya, ketika Kyuhyun terus mengucapkan namanya dengan suara yang cukup sensual di telinganya. Sungmin duduk di tepian ranjang Kyuhyun, rasa-rasanya dia sama sekali tidak mengenal pemuda itu, bagaimana mungkin pria ini mengenalku? Aku bahkan tidak pernah melihatnya.

 

                Gelenyar panas itu semakin mendera di seluruh bagian tubuhnya, Sungmin kembali menggeliat. Yeoja itu memejamkan kedua matanya, menggigit bibir ranumnya yang merekah kemerahan. Sungmin benar-benar butuh pelampiasan sekarang, tubuhnya terasa seolah akan meledak jika dia tidak segera mendapatkan kebutuhannya.

 

Kyuhyun membuka kedua matanya perlahan, pemuda itu belum sepenuhnya sadar dari hangovernya. Kyuhyun menatap sosok Sungmin yang menggeliat gelisah di sampingnya. Seulas senyum tersungging dari sudut bibirnya, “Min~ kau datang?” ucapnya parau sembari menarik tubuh Sungmin agar berbaring di bawahnya.

 

Sungmin terlalu tidak focus untuk bisa menolak tarikan lengan Kyuhyun atas tubuhnya. Tubuh Kyuhyun kini telah berada di atas tubuhnya. Sungmin mengerang keras ketika Kyuhyun menempelkan bibirnya di antara perpotongan lehernya. Harusnya Sungmin menolak, tapi kecupan Kyuhyun di atas tubuhnya benar-benar membuat rasa panas dan sakitnya sedikit demi sedikit berkurang. Kyuhyun mendekatkan bibirnya di atas bibir Sungmin. meraupnya ganas seolah ini adalah pertama dan yang terakhir kalinya dia berciuman. Sungmin melebarkan kedua matanya, namun pikirannya benar-benar kosong dan memilih untuk pasrah di bawah klaim Cho Kyuhyun, pria yang bahkan belum pernah ditemuinya. Apa yang terjadi denganku? Siapa pria ini? Jungmo-ya, tolong aku!

 

 

Te Be Ce / END

 

RnR

 

 

Ps : Untuk lagu yang dimainkan Sungmin dalam FF ini, kalian pasti tahu ^^ “Because Of Love” lagu yang sering dibawain Sungmin ma Kyuhyun

 

Untuk nada dering ponselnya Sungmin “What if” part’nya Kyumin ^^

About these ads

About quint137shipper

my name is Isungyi and also known as billy quint i'm a young lady who love SUPER JUNIOR so much My bias is Sungmin, just Sungmin.. ^^ i'm a Kyumin shipper.. I love Pink i hate fanwar, but i hate you more if you hate suju i'm moodswing Welcome to my world Bashing is not allowed here if you hate my FF just go away! Lihat semua pos milik quint137shipper

50 responses to “FF KYUMIN GS // Song For You // Chapter 1

Thanks for reading and keep review please ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.282 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: